TARAKAN — Rehabilitasi mangrove di Kalimantan Utara tidak berhenti pada penanaman bibit. Sebanyak 1.354 warga dilibatkan sebagai bagian dari proses pemulihan kawasan pesisir, sekaligus mendapat dukungan untuk mengembangkan usaha produktif. Pendekatan itu menjadi bagian pelaksanaan M4CR yang dikelola Kementerian Kehutanan.
Hingga kini, rehabilitasi mangrove di Kaltara mencapai 4.443 hektare dengan penanaman lebih dari 3,5 juta bibit jenis Rhizophora. Angka itu masih jauh dari target pemulihan 14.576 hektare yang dibidik M4CR hingga 2027.
Mengapa Warga Dilibatkan Sejak Awal
PPIU Manager M4CR Kalimantan Utara Akhmad Ashar Sarif menyebut keterlibatan warga sebagai faktor penting keberlanjutan rehabilitasi. Pemulihan kawasan pesisir, katanya, tidak cukup hanya lewat penanaman.
"Bagi kami, penting memastikan masyarakat menjadi bagian dari proses pemulihan mangrove sekaligus merasakan manfaat dari program ini. Karena itu, M4CR tidak hanya mendukung kegiatan rehabilitasi, tetapi juga memperkuat kapasitas kelompok dan mengembangkan potensi usaha masyarakat di sekitar kawasan pesisir," ujarnya.
Penguatan ekonomi disesuaikan dengan potensi masing-masing wilayah. Rehabilitasi diharapkan berjalan beriringan dengan pengembangan mata pencaharian warga tanpa mengabaikan fungsi ekologis mangrove.
Silvofishery di Tana Tidung: Tambak dan Mangrove Berdampingan
Di Desa Tanah Merah, Kecamatan Tana Lia, Kabupaten Tana Tidung, kelompok Mekar Abadi dan Tunas Abadi Jaya mengembangkan budidaya udang dan bandeng lewat sistem silvofishery. Sistem ini menggabungkan kegiatan tambak dengan keberadaan ekosistem mangrove.
Kedua kelompok menanam mangrove pada area masing-masing seluas 133 hektare dan 130 hektare. Total bibit yang ditanam mencapai lebih dari 210 ribu. Mereka juga menerima dukungan sarana produksi melalui skema matching grant M4CR.
Kipas Bambu Batik hingga Minyak Kelapa Murni
Pengembangan usaha berbasis potensi lokal menyasar kelompok lain di Tana Tidung. KUKT Inggilad Taka di Desa Tengku Dacing mengembangkan kerajinan kipas tangan berbahan bambu yang dipadukan dengan sentuhan batik.
Lembaga Pengelola Hutan Desa (LPHD) Bebatu di Desa Bebatu memproduksi minyak kelapa murni atau virgin coconut oil (VCO) dengan memanfaatkan kelapa lokal. Kedua kelompok memperoleh bantuan peralatan produksi dari program M4CR.
Fasilitasi itu diharapkan meningkatkan kemampuan kelompok mengolah bahan baku lokal menjadi produk bernilai ekonomi, sekaligus memperluas sumber penghasilan warga di sekitar kawasan mangrove.
Target 32.634 Hektare di Empat Provinsi
M4CR merupakan program strategis nasional yang dijalankan di empat provinsi prioritas: Riau, Sumatera Utara, Kalimantan Timur, dan Kalimantan Utara. Secara keseluruhan, program ini menargetkan rehabilitasi mangrove seluas 32.634 hektare hingga 2027.
Pelaksanaannya berada di bawah Direktorat Jenderal Pengelolaan Daerah Aliran Sungai dan Rehabilitasi Hutan (PDASRH) Kementerian Kehutanan. Program ini didukung pemerintah daerah, sejumlah kementerian dan lembaga terkait, serta pendanaan melalui kerja sama dengan World Bank.
Bagi warga pesisir Kaltara, hasil akhirnya bukan sekadar bertambahnya luas kawasan yang ditanami. Pelestarian lingkungan dan peningkatan kesejahteraan diarahkan berjalan beriringan.