Pencarian

Mitos Medan Magnet Rel Kereta Bikin Kendaraan Mogok, Ini Fakta Ilmiah dari Guru Besar UI

Jumat, 10 Juli 2026 • 16:16:31 WIB
Mitos Medan Magnet Rel Kereta Bikin Kendaraan Mogok, Ini Fakta Ilmiah dari Guru Besar UI
Prof. Agustino Zulys dari UI menjelaskan medan magnet rel kereta tidak cukup kuat untuk menyebabkan kendaraan mogok.

KALIMANTAN UTARA — Anggapan bahwa kendaraan bermotor mogok saat melintas di rel kereta api akibat medan magnet kuat sudah lama beredar di masyarakat. Guru Besar Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Indonesia (UI), Prof. Dr. rer. nat. Agustino Zulys, M.Sc., angkat bicara memberikan penjelasan ilmiah yang membantah mitos tersebut.

Melalui akun Instagram resminya, Agustino menegaskan bahwa rel kereta memang terbuat dari baja yang bersifat feromagnetik, namun bukan berarti rel tersebut menjadi magnet aktif. “Dalam fisika, medan magnet baru berdampak signifikan apabila terdapat medan magnet yang sangat kuat, seperti pada mesin MRI di rumah sakit,” jelasnya.

Hasil Penelitian 2019: Medan Magnet Rel Hanya 47,7 Mikrotesla

Agustino mengutip hasil penelitian pada 2019 yang mengukur medan magnet di sekitar rel kereta saat kereta melintas. Hasilnya menunjukkan rata-rata medan magnet hanya sekitar 47,7 mikrotesla (µT). Angka ini hampir sama dengan medan magnet alami Bumi yang berkisar 25 hingga 65 mikrotesla.

“Jadi mustahil rel kereta membuat motor mogok karena ditarik magnet,” tegasnya. Sebagai ilustrasi, jika rel benar-benar memiliki medan magnet sangat kuat, benda logam seperti baut, kunci, atau ponsel seharusnya menempel pada rel. Kenyataannya, hal itu tidak pernah terjadi.

Empat Penyebab Nyata Kendaraan Mogok di Perlintasan Rel

Menurut Agustino, ada sejumlah faktor yang lebih masuk akal dibandingkan mitos medan magnet. Pertama, permukaan rel yang terbuat dari baja sangat licin, apalagi jika ada debu, pasir, air, atau sisa oli. Akibatnya, ban kendaraan—terutama sepeda motor—kehilangan daya cengkeram dan mudah selip.

Kedua, posisi rel yang tidak selalu rata dengan permukaan jalan. Di beberapa perlintasan, rel memiliki sudut tertentu atau sedikit lebih tinggi. Jika kendaraan melintas dengan kecepatan rendah atau sudut kurang tepat, roda bisa tersangkut atau kehilangan momentum. Kondisi ini lebih sering dialami motor dengan ban kecil atau kendaraan berbeban berat.

Ketiga, faktor pengendara yang panik. Saat roda kehilangan traksi, sebagian pengendara refleks membuka gas lebih besar. Tindakan itu justru membuat roda semakin selip karena daya cengkeram ban terhadap permukaan baja berkurang drastis. Akibatnya, kendaraan terasa tidak mampu bergerak meski mesin masih hidup.

Keempat, kondisi mesin yang memang sedang bermasalah. Banyak kasus kendaraan mogok di rel sebenarnya disebabkan aki lemah, sistem pengapian rusak, bahan bakar habis, atau gangguan teknis lain. “Kebetulan kendaraan berhenti tepat di atas rel sehingga muncul anggapan penyebabnya medan magnet,” pungkas Agustino.

Dengan memahami penyebab sebenarnya, masyarakat diharapkan tidak lagi percaya pada mitos medan magnet rel kereta. Fokus utama saat melintasi perlintasan kereta api adalah keselamatan dan teknik berkendara yang benar, bukan ketakutan pada magnet yang tak terbukti secara ilmiah.

Bagikan
Sumber: otorider.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks