Inflasi Kaltara Naik Tiga Bulan Berturut-turut ke 2,68 Persen, Cabai Rawit Jadi Pemicu Tertinggi di Oktober

Penulis: Edi Wahyono  •  Rabu, 04 November 2026 | 10:17:01 WIB
Cabai rawit menyumbang andil 0,66 persen terhadap inflasi Kalimantan Utara pada Oktober 2026.

TANJUNG SELOR — Cabai rawit memberi andil 0,66 persen terhadap inflasi Oktober 2026 di Kalimantan Utara. Angka itu menjadikannya komoditas pemicu tertinggi, disusul tarif angkutan udara, emas perhiasan, beras, nasi dengan lauk, bensin, sepeda motor, minyak goreng, dan tomat.

Kepala BPS Kaltara Mustaqim menyebut kenaikan harga sejumlah kebutuhan masyarakat, terutama komoditas pangan, sebagai salah satu pemicu tekanan inflasi bulan itu.

"Cabai rawit tercatat sebagai komoditas yang memberikan andil terbesar terhadap inflasi Oktober 2026 sebesar 0,66 persen," ujar Mustaqim, Selasa (3/11).

Nunukan Catat Inflasi Tertinggi, Disusul Tarakan dan Tanjung Selor

Dari tiga daerah pantauan Indeks Harga Konsumen di Kaltara, semuanya mengalami inflasi pada Oktober 2026. Nunukan tertinggi dengan 2,75 persen secara tahunan, kemudian Tarakan 2,70 persen, dan Tanjung Selor 2,52 persen.

Pergerakan inflasi provinsi ini terlihat konsisten menanjak sejak pertengahan tahun. BPS Kaltara mencatat 2,00 persen pada Juli 2026, naik menjadi 2,17 persen di Agustus, lalu 2,56 persen pada September, sebelum mencapai 2,68 persen di Oktober.

Ikan Bandeng hingga Bawang Merah Justru Menahan Laju Inflasi

Sejumlah komoditas bergerak berlawanan arah dan menyumbang deflasi tahunan. Ikan bandeng, bayam, telur ayam ras, kangkung, sawi hijau, udang basah, daging ayam ras, dan ikan kembung termasuk di antaranya.

Kelompok lain yang menahan laju inflasi adalah sabun mandi, ikan cakalang, baju kaos tanpa kerah, perguruan tinggi, susu bubuk untuk balita, bawang merah, serta pembersih lantai.

Pemerintah Daerah Diminta Jaga Pasokan dan Harga Pangan

Kondisi Oktober 2026 memperlihatkan perlunya kewaspadaan pemerintah daerah dalam menjaga stabilitas pasokan dan keterjangkauan harga. Komoditas pangan menjadi perhatian utama karena berpengaruh langsung terhadap daya beli masyarakat.

Tekanan harga pangan di Kaltara sejauh ini ditopang kenaikan cabai rawit, beras, dan minyak goreng, sementara tarif angkutan udara dan bensin ikut menambah beban biaya distribusi antarwilayah.

Reporter: Edi Wahyono
Sumber: radartarakan.jawapos.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top