TANJUNG SELOR — Kepala BPS Kaltara Mustaqim menyebut capaian 55,92 persen itu berarti lebih dari separuh kapasitas kamar hotel berbintang yang tersedia telah terjual atau digunakan selama Agustus. Angka tersebut menjadi sinyal positif bagi aktivitas sektor perhotelan dan pariwisata di provinsi yang berbatasan langsung dengan Malaysia itu.
Peningkatan okupansi hotel berbintang berbanding terbalik dengan kondisi hotel nonbintang dan akomodasi lainnya. Pada periode yang sama, tingkat hunian kelompok akomodasi tersebut tercatat 27,72 persen, turun 0,46 poin dibandingkan bulan sebelumnya.
Mustaqim menjelaskan, jika digabungkan, tingkat penghunian kamar hotel berbintang, hotel nonbintang, dan akomodasi lainnya di Kaltara mencapai 31,63 persen. Angka ini turun tipis 0,12 poin dibandingkan Juli 2026, tetapi masih lebih tinggi 0,74 poin dibandingkan Agustus 2025.
"Jika digabungkan, tingkat penghunian kamar hotel berbintang, hotel nonbintang, dan akomodasi lainnya di Kaltara mencapai 31,63 persen. Angka ini turun tipis 0,12 poin dibandingkan Juli 2026, tetapi masih lebih tinggi 0,74 poin dibandingkan Agustus 2025," ungkapnya, Jumat (30/10).
Dari sisi wilayah, tingkat hunian hotel nonbintang dan akomodasi lainnya menunjukkan perkembangan yang berbeda-beda. Kabupaten Bulungan mencatat okupansi 28,26 persen, meningkat 4,34 poin dibandingkan bulan sebelumnya.
Kabupaten Nunukan juga mengalami kenaikan 0,86 poin menjadi 22,67 persen. Sementara Tarakan mencatat tingkat hunian 34,23 persen atau turun 3,17 poin, dan Malinau mengalami penurunan 2,91 poin menjadi 20,20 persen.
Tana Tidung menjadi wilayah dengan tingkat hunian terendah, yakni 2,35 persen. Selain okupansi, BPS juga mencatat perkembangan rata-rata lama menginap tamu.