Menkomdigi Meutya Hafid Sebut Algoritma Tak Boleh Seragamkan Informasi Anak dari Sabang sampai Merauke

Penulis: Boyke Sihombing  •  Minggu, 01 November 2026 | 07:46:01 WIB
Menkomdigi Meutya Hafid menyampaikan pentingnya algoritma yang mencerminkan keragaman budaya Indonesia dalam Indonesia Youth Summit 2026.

JAKARTA — Meutya Hafid menyampaikan hal itu di hadapan peserta Indonesia Youth Summit 2026. Ia menyebut keragaman budaya sebagai kekuatan yang harus tercermin dalam teknologi, bukan justru diseragamkan oleh pola informasi yang dibentuk algoritma.

Menurut Meutya, teknologi seharusnya mencerminkan keragaman Indonesia. Bukan membuat masyarakat mengikuti pola informasi yang seragam.

Algoritma Diminta Tidak Memaksa Anak Melihat Hal yang Sama

Meutya menyebut sejumlah daerah yang menjadi bagian dari keragaman Indonesia, mulai dari Maluku, Papua, Aceh, Medan, Makassar, Bali, Jambi, hingga Kalimantan. Ia menekankan bahwa setiap daerah memiliki cerita masing-masing.

"Maluku, Papua, Aceh, Medan, Makassar, Bali, Jambi, Kalimantan; inilah teman-teman Indonesia, inilah Indonesia. Oleh karena itu, teknologi tidak boleh membuat kita melihat hal yang sama. Algoritma tidak boleh memaksa anak-anak dari Sabang sampai Merauke, yang memiliki cerita masing-masing, untuk melihat satu hal yang sama," kata Meutya.

Ia juga mengingatkan bahwa tanpa pengaman dan pengawasan memadai, algoritma dapat membentuk pola informasi dan kebiasaan seragam. Kondisi tersebut berisiko mengikis keunikan masyarakat yang menjadi kekuatan Indonesia.

Kecerdasan Artifisial Berisiko Bias jika Data Hanya dari Jakarta dan Pulau Jawa

Meutya menyoroti keterwakilan data sebagai faktor penting untuk mencegah bias kecerdasan artifisial (AI). Apabila data yang digunakan hanya berasal dari Jakarta atau Pulau Jawa, hasil pengolahan AI tidak akan menggambarkan keragaman masyarakat Indonesia.

"Kalau data kita hanya berasal dari Jakarta atau Pulau Jawa, maka AI akan menjadi bias. Pertama, datanya tidak valid. Kedua, AI cenderung menyenangkan penggunanya. AI memberikan validasi, bukan informasi. Padahal, yang kita perlukan untuk produktivitas adalah informasi yang akurat," jelasnya.

Menkomdigi menekankan pentingnya keakuratan informasi yang dihasilkan AI. Terlebih perkembangan teknologi seperti agentic AI memiliki kemampuan mengambil keputusan secara mandiri.

Keputusan Akhir Harus Tetap di Tangan Manusia

Pengaman teknologi diperlukan agar inovasi tetap berjalan tanpa mengabaikan kendali dan kepentingan manusia. Meutya menegaskan bahwa keputusan akhir harus berada di tangan manusia.

"Keputusan akhir harus ada di tangan manusia. Ini sejalan dengan topik acara, yaitu kepemimpinan dalam AI. Kita harus menjadi pemimpin bagi AI itu sendiri," ujar Meutya.

Peringatan soal pengawasan algoritma disampaikan Meutya di forum yang mempertemukan generasi muda dengan pembahasan kepemimpinan teknologi. Ia menyebut kecenderungan penyeragaman informasi perlu dimitigasi karena dapat membuat kekuatan Indonesia runtuh.

Reporter: Boyke Sihombing
Sumber: kaltara.antaranews.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top