KALIMANTAN UTARA — PT Pertamina Patra Niaga menambah 72 mobil tangki berkapasitas gabungan 1.704 kiloliter untuk mempercepat pemulihan distribusi BBM di Jawa Timur, Sulawesi Utara, dan Lampung. Langkah itu diambil setelah gangguan pasokan memicu antrean panjang di sejumlah daerah sejak pekan lalu. Penambahan armada ini menyusul pemantauan operasional pada Selasa (27/10/2026) yang menunjukkan antrean di Bali, Jawa Timur, dan Sulawesi Utara sudah kembali terkendali.
Vice President Corporate Communication Pertamina Patra Niaga Kitty Andhora menyatakan perusahaan memperketat pengawasan penyaluran BBM di wilayah yang mengalami gangguan distribusi. Pengawasan mencakup pemantauan stok, percepatan pengiriman pasokan, hingga pengaturan antrean kendaraan di stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU).
Perusahaan memastikan koordinasi antara terminal BBM, armada mobil tangki, dan SPBU berjalan optimal. Pengiriman juga diprioritaskan ke SPBU yang membutuhkan percepatan pasokan guna menekan potensi antrean.
Dari 72 mobil tangki yang dikerahkan, sebanyak 41 unit berkapasitas 1.184 KL ditempatkan di Jawa Timur. Sulawesi Utara mendapat 11 unit berkapasitas 200 KL, sedangkan Lampung menerima 20 unit berkapasitas 320 KL.
Di Jawa Timur, Pertamina mengoperasikan sejumlah terminal selama 24 jam dan mengoptimalkan pelayanan di 17 SPBU yang buka sepanjang hari. Sulawesi Utara memperoleh penguatan serupa melalui perpanjangan operasional Integrated Terminal Bitung menjadi 24 jam.
Lampung ditopang pengalihan pasokan 120 KL dari Integrated Terminal Palembang. Perusahaan juga menyiapkan pengiriman dari terminal penyangga bila kebutuhan di lapangan meningkat.
Hasil pemantauan operasional pada Selasa (27/10/2026) mencatat antrean BBM di Bali, Jawa Timur, dan Sulawesi Utara telah kembali terkendali. Antrean di Lampung dan Gorontalo masih terlihat, tetapi menunjukkan tren penurunan seiring penguatan distribusi.
Pertamina memperluas pemantauan hingga tahap penerimaan dan pembongkaran BBM di SPBU. Langkah itu untuk memastikan pasokan yang dikirim dari terminal benar-benar sampai ke lokasi penyaluran. Jadwal mobil tangki diatur berdasarkan kebutuhan dan kondisi masing-masing wilayah.
Kitty menjelaskan setiap daerah menghadapi tantangan distribusi yang tidak sama. Mulai dari lonjakan permintaan, jarak tempuh dan medan sulit, hingga kendala akses kapal ke terminal tertentu.
"Pertamina Patra Niaga terus mengintensifkan penyaluran BBM melalui penguatan pasokan, optimalisasi armada, dan pengaturan distribusi sesuai kebutuhan di lapangan. Koordinasi antara terminal BBM, mobil tangki, dan SPBU juga terus diperkuat agar pasokan dapat segera diterima dan pelayanan kepada masyarakat tetap terjaga," kata Kitty di Jakarta, dikutip Kamis (29/10/2026).
"Setiap wilayah memiliki tantangan distribusi yang berbeda, mulai dari peningkatan permintaan, jarak tempuh dan medan yang sulit, hingga kendala akses kapal ke terminal tertentu. Karena itu, langkah penanganan disesuaikan dengan kondisi lapangan, antara lain melalui pengalihan pasokan, percepatan pengiriman, serta koordinasi dengan pemerintah daerah dan aparat terkait," lanjutnya.
Penguatan pengawasan melibatkan pemerintah daerah dan aparat penegak hukum. Koordinasi diarahkan untuk mendukung kelancaran distribusi, membantu pengaturan antrean kendaraan, serta memastikan penyaluran BBM sesuai ketentuan.
Pertamina memastikan pemantauan kondisi SPBU dan penyesuaian langkah operasional terus dilakukan mengikuti perkembangan kebutuhan masyarakat. Perusahaan mengimbau konsumen membeli BBM sesuai kebutuhan dan menghindari pembelian berlebihan agar distribusi tetap lancar.
Bagi pelanggan, penambahan armada dan perpanjangan jam operasional terminal menjadi sinyal bahwa pasokan sedang dikejar dari sisi logistik, bukan hanya pengaturan antrean di SPBU. Bagi investor, kecepatan pemulihan distribusi menjadi indikator penting karena penjualan BBM ritel merupakan tulang punggung pendapatan Patra Niaga sebagai anak usaha Pertamina di lini hilir.