Saham Raksasa Teknologi AS-Anjlok, Nilai Pasar USD 2,5 Triliun Lenyap

Penulis: Cecep Sudrajat  •  Jumat, 06 November 2026 | 12:51:01 WIB
Indeks Nasdaq anjlok lebih dari 5,5% seiring aksi jual saham teknologi global.

KALIMANTAN UTARA — Nilai pasar sekitar USD 2,5 triliun lenyap dari emiten teknologi global setelah kemenangan Partai Demokrat pada pemilihan sela AS memicu aksi jual besar-besaran. Indeks Nasdaq turun lebih dari 5,5%, sementara bursa Asia ikut tertekan dengan Kospi anjlok 8,5% hingga memicu circuit breaker. Pasar membaca hasil pemilu sebagai sinyal perlambatan pengembangan AI dan pembatasan pembangunan data center.

Kekhawatiran investor berpusat pada satu pertanyaan: apakah belanja modal raksasa untuk infrastruktur AI akan membuahkan hasil. Partai Demokrat berkampanye dengan janji memperlambat pertumbuhan data center dan AI, lalu memenangkan Senat maupun Dewan Perwakilan Rakyat AS.

Kemenangan itu memberi Demokrat kendali atas Kongres. Sejumlah anggota partai berpendapat AI berkembang terlalu besar tanpa perlindungan atau pengawasan, dan berjanji mengubahnya lewat kekuasaan legislatif yang baru.

Seberapa Dalam Kerugian di Bursa Asia

Di Jepang, Nikkei 225 turun 6% pada awal perdagangan. Saham pembuat chip memori Kioxia anjlok lebih dari 12,6%, sedangkan Tokyo Electron melemah 9,5%.

Tekanan berlanjut ke Korea Selatan. SK Hynix anjlok lebih dari 11,5% dan Samsung turun hampir 10%, membuat indeks Kospi merosot lebih dari 8,5% hingga memicu circuit breaker, mekanisme penghentian perdagangan sementara untuk menahan penjualan panik.

Di Taiwan, indeks Taiex anjlok lebih dari 8,3%. Raksasa pembuat chip TSMC ikut turun hampir 8,5%.

Nvidia hingga Tesla Kehilangan Nilai Pasar

Saham Nvidia meluncur lebih dari 9%, memangkas sekitar USD 400 miliar dari nilai pasarnya. AMD dan Micron sama-sama anjlok lebih dari 17%, Intel turun 10,3%, dan SanDisk anjlok lebih dari 22%.

Emiten milik Elon Musk tidak luput. SpaceX turun 8% dan Tesla melemah hampir 11%. Secara keseluruhan, tujuh perusahaan teknologi raksasa yang disebut Magnificent Seven, termasuk Apple, Nvidia, dan Tesla, kehilangan nilai satu triliun dolar dalam sehari perdagangan saja.

Trump Menyalahkan Lawan Politik

Mantan Presiden Donald Trump menyalahkan lawan politiknya atas penurunan ini melalui unggahan di media sosial. "Pasar Saham mengalami salah satu Hari Terburuk dalam Sejarah berdasarkan hasil Pemilu," katanya.

Ia menegaskan hasil itu bukan kesalahan Partai Republik. "Ingat, ini bukan salah Partai Republik, tapi Dumocrats (ejekan untuk Demokrat). Namun jangan takut, kita akan segera, dengan satu atau lain cara, menjadi LEBIH BESAR DAN LEBIH KUAT DARI SEBELUMNYA. JADIKAN AMERIKA HEBAT KEMBALI!," imbuhnya.

Dari kubu Demokrat, Senator Bernie Sanders menyerukan penghentian sementara pembangunan pusat data. "Rakyat Amerika tidak ingin oligarki Teknologi Besar merusak lingkungan, memusnahkan lapangan kerja, dan mengancam masa depan umat manusia. MORATORIUM PUSAT DATA NASIONAL SEKARANG," katanya.

Mengapa Data Center Jadi Sasaran

Pengawasan lebih ketat terhadap persetujuan data center, termasuk dampaknya pada lingkungan dan tagihan listrik, berpotensi menunda proyek dan menaikkan biaya. Gubernur Texas terpilih dari Demokrat, Gina Hinojosa, berkampanye menentang data center.

Elon Musk menghabiskan hampir USD 450 juta untuk mendukung kampanye Partai Republik, termasuk setidaknya USD 45 juta untuk mendukung Ken Paxton di kursi senat Texas. Texas tetap berubah menjadi basis Demokrat.

Presiden dan salah satu pendiri OpenAI, Greg Brockman, menilai reaksi publik terhadap data center mengejutkan banyak pihak di industri. "Anda tak bisa hanya menge-tweet dan mengatakan: 'Ini akan berdampak baik.' Anda harus hadir di dalam komunitas-komunitas tersebut," katanya, dikutip dari BBC.

Bagi ekosistem digital Indonesia, gejolak ini layak dicermati. Tekanan politik terhadap infrastruktur AI di AS bisa mengubah peta pasokan chip, biaya komputasi awan, dan jadwal ekspansi layanan AI global yang selama ini menjadi tulang punggung banyak produk digital lokal.

Reporter: Cecep Sudrajat
Sumber: inet.detik.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top