TARAKAN — Badan Karantina Indonesia (Barantin) tidak akan menambah layanan secara serentak di seluruh titik perlintasan di Kalimantan Utara. Instansi itu terlebih dahulu memetakan lokasi dengan aktivitas lalu lintas barang dan komoditas tertinggi untuk ditetapkan sebagai prioritas.
Kepala Badan Karantina Indonesia, Abdul Kadir Karding, menyebut Kaltara memiliki sekitar 95 titik yang berkaitan dengan pelayanan karantina. Dari jumlah tersebut, hanya lokasi yang alur barangnya paling padat yang bakal mendapat penguatan.
Kawasan perbatasan menjadi salah satu fokus karena pergerakan komoditas di sana dinilai membutuhkan ketersediaan layanan karantina yang memadai. Karding menegaskan pemilihan titik dilakukan berdasarkan skala prioritas, bukan pemerataan di semua lokasi.
“Seluruh pelabuhan yang alur barangnya, komoditasnya itu sering dan banyak, kita mau pasang,” ungkapnya di Tarakan.
“Saya pilih nanti yang prioritas-prioritas,” sambungnya mengenai mekanisme penentuan lokasi.
Pada titik yang terpilih, Barantin berencana membentuk satuan pelayanan baru. Langkah ini ditempuh agar petugas karantina bisa hadir lebih dekat dengan jalur pergerakan komoditas utama.
“Saya bentuk di situ APS1, Satuan Pelayanan,” terang Karding.
Pelaksanaan penguatan layanan tersebut mulai diarahkan untuk tahun 2027. Karding memastikan kebutuhan anggaran untuk program ini telah disiapkan sejak sekarang.
“Tahun ini sudah boleh dan 2027 sudah boleh, karena sudah saya anggarkan,” tegasnya.
Selain keberadaan PLBN, Barantin akan menilai tingkat aktivitas tiap titik sebelum menempatkan personel. Kebijakan ini diambil supaya sumber daya karantina tidak tersebar tipis, melainkan terkonsentrasi di jalur dengan pergerakan komoditas paling tinggi.
“Yang penting-penting, yang alurnya banyak, kita mau pasang,” pungkasnya.